Mahasiswa KKN Gabungan 5 Perguruan Tinggi Muhammadiyah Gelar Pelatihan Pembuatan Kompos dan Eco Enzim di Desa Walelei
MUNA BARAT — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mengabdi ke-160 yang merupakan gabungan dari lima Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sukses menyelenggarakan program pembuatan pupuk kompos dan eco enzim bersama masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Kelompok 9 yang ditempatkan di Desa Walelei, Kecamatan Barangka, Kabupaten Muna Barat.
Program KKN kolaboratif ini melibatkan mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari, UM Buton, Institut Teknologi Bisnis dan Kesehatan Muhammadiyah (ITBKM) Muna Barat, serta Institut Teknologi Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Wakatobi.
Dalam pelaksanaannya, Kelompok 9 berkolaborasi langsung dengan warga setempat untuk memproduksi pupuk ramah lingkungan yang dapat menunjang sektor pertanian desa. Seluruh bahan baku dan perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan ini difasilitasi secara penuh oleh para mahasiswa KKN bersama Kepala Desa Walelei.
Kegiatan edukasi dan praktik langsung ini dipandu oleh Bapak Mirad F, seorang penduduk asli Desa Walelei yang telah berpengalaman dan sering memproduksi pupuk kompos secara mandiri. Kehadiran beliau sebagai instruktur lokal membuat masyarakat lebih mudah memahami proses pembuatan karena menggunakan pendekatan dan bahan yang akrab dengan keseharian warga.
Menjelaskan takaran pembuatannya, Bapak Mirad F memaparkan, “Untuk komposisi pupuk kompos, kita memanfaatkan limbah organik yang ada di sekitar kita seperti dedaunan kering, kotoran ternak, dan sisa hasil pertanian. Sedangkan untuk eco enzim, komposisinya menggunakan sisa kulit buah atau sayuran segar, gula merah, dan air yang kemudian kita peras dan fermentasi. Semuanya bahan alami dan sangat mudah didapatkan oleh warga.”
Inovasi yang dibawa oleh mahasiswa gabungan ini mendapat apresiasi positif dari pemerintah desa setempat. Kepala Desa Walelei menyatakan bahwa langkah ini merupakan solusi cerdas untuk mengolah limbah organik desa menjadi sesuatu yang bernilai guna tinggi.
“Pupuk ini sangat bermanfaat bagi masyarakat desa Walelei, terlebih eco enzim,” ungkap Kepala Desa Walelei saat meninjau langsung jalannya kegiatan.
Ketua Kelompok 9 KKN Desa Walelei menyampaikan bahwa program ini tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan produk akhir berupa pupuk, melainkan berfokus pada transfer pengetahuan atau edukasi kepada warga agar program dapat terus berjalan mandiri setelah masa KKN berakhir.
“Kami sangat berharap hal ini dapat berlanjut, kami hadir untuk memberikan edukasi agar masyarakat juga bisa tau prosesnya dan bisa bermanfaat,” tutur Ketua Kelompok 9.
Dengan adanya kolaborasi lintas universitas Muhammadiyah dan antusiasme warga Desa Walelei, diharapkan praktik pembuatan kompos dan eco enzim ini dapat menjadi kebiasaan baru yang meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di Kecamatan Barangka.




